SITUS JUDI ONLINE - Wow, Perempuan di Jepang Rela Membayar Rp 52 Juta Demi ‘High Heels’

Wow, Perempuan di Jepang Rela Membayar Rp 52 Juta Demi ‘High Heels’


http://www.pasarpoker.com/app/Default0.aspx?lang=id

SITUS JUDI ONLINE- Walaupun negara ini tergolong sebagai negara maju, Jepang terhitung sebagai negara dengan nomor urut paling buncit dalam urusan kesetaraan gender.

Untuk itu sebuah asoiasi di Jepang memunculkan gerakan baru yang bertujuan untuk “memberdayakan” wanita Jepang melalui anjuran bagi wanita untuk memakai sepatu hak tinggi.

Asosiasi Hak Tinggi Jepang – Japan High Heels Asssociation, (JHA) menganjurkan kepada kaum wanita untuk mengganti sepatu hak datar mereka dengan stiletto yang bertujuan untuk meningkatkan sebuah rasa percaya diri para wanita di tengah-tengah masyarakat sekaligus memperbaiki postur.

organisasi tersebut telah menawarkan sebuah kursus khusus kaum wanita yaitu “Kelas etiket ketika berjalan” yang berlangsung selama 6 bulan dan membutuhkan biaya sekitar 400 ribu yen atau Rp 52 Juta.

Walaupun terbilang mahal, namun ternyata kursus ini justru sangat laku. Bahkan sampai saat ini sudah ada 4.000 wanita jepang yang telah menjadi ‘lulusan’ dikursus tersebut.


Organisasi itu hanyalah satu dari sekian banyaknya kursus yang bermunculan di seantero Jepang yang menawarkan kursus serupa kepada kaum wanita, yaitu agar dapat memberikan sebuah kepercayaan diri dan memperbaiki postur.

Namun, para kritiskus mencela tentang kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan hak tinggi tersebut.

Seorang komentator sosial kondang yang bernama Mitsuko Shimomura mengatakan,

“Tidak ada hubungannya mengenakan sepatu hak tinggi dengan kekuatan seorang wanita. Ini kedengarannya tidak waras.”

Namun, “Madam” Yumiko, yang merupakan direktur di JHA, bersikeras bahwa pemakaian sepatu hak tinggi itu akan dapat membantu “wanita Jepang menjadi lebih percaya diri.”



Aksi memakai hak tinggi untuk perempuan tidak hanya untuk membebaskan mereka secara mental, tetapi juga memperbaiki postur buruk yang diakibatkan dengan pemakaian kimono, ujar mantan penari balet berusia 48 tahun ini.

“Kaum wanita China atau Korea tidak memiliki masalah ini. Inilah akibat budaya memakai kimono dan berjalan yang hanya memakai sandal jerami. Jadi hal itu sudah menjadi kebiasaan orang Jepang dalam berjalan,” tambahnya.

“Tapi hanya sedikit warga Jepang yang masih memakai kimono setiap harinya. Kita harus memberikan pengetahuan tentang budaya Barat dan memahami cara memakai hak tinggi dengan benar.”

Seruan pemakaian hak tinggi oleh kaum wanita ini sangat kontras dengan kecenderungan di kalangan pegawai wanita di Inggris dengan adanya gerakan yang menyerukan kepada pemerintah untuk mengubah aturan pakaian “seksis” untuk pegawai wanita.





Next
Previous
Click here for Comments

0 komentar: