SITUS JUDI ONLINE - CEWEK GENIT YANG MENGGODA NAMUN TAK MAU DIAJAK NGENTOT

CEWEK GENIT YANG MENGGODA NAMUN TAK MAU DIAJAK NGENTOT 


http://www.pasarpoker.com/app/Default0.aspx?lang=id

SITUS JUDI ONLINE - Satu tahun lebih lantas saat perusahaan tempatku bekerja memperoleh kontrak satu proyek pada suatu BUMN besar di Bandung, sepanjang satu tahun saya ngantor di gedung megah kantor pusat BUMN itu. Sarana di gedung kantor ini komplit. 

Terdapat banyak bank, kantor pos serta kantin. Kantorku di lantai 3, di lantai 1 gedung ini ada satu toko punya koperasi pegawai BUMN ini yang sediakan keperluan keseharian, serupa swalayan kecil. Ada 3 orang pegawai koperasi yang melayani toko ini, 2 salah satunya cewek. 

Seseorang telah berkeluarga, satu lagi single, 22 th., lumayan cantik, putih serta mulus, mungil, sebut saja Sari namanya. Awalannya, saya tidak ada kemauan “mengganggu” Sari, saya ke toko ini lantaran memanglah perlu makanan kecil serta rokok. Sari menarik perhatianku lantaran paha mulusnya “diobral”. 

Roknya senantiasa jenis mini serta langkah duduknya asal-asalan. CD-nya pernah tampak saat ia jongkok mengambil dagangan yang terdapat dibagian bawah rack kaca etalase. Saya jadi miliki kemauan mengganggunya (serta sudah pasti menginginkan menyetubuhinya) sesudah tahu kalau Sari nyatanya cewek genit serta omongannya “nyrempet-nyrempet”. 

Niatku semakin menggebu sesudah Sari tidak tunjukkan kemarahan saat sekian kali saya menjamah paha mulusnya serta bahkan juga sekali saya pernah meremas buah dadanya. Paling-paling ia cuma menepis tanganku sembari matanya jelalatan cemas ada orang yang memandangnya. 

Pasti ini ada “ongkosnya”, yakni saya tidak pernah minta duit kembalian. Supaya dapat bebas menjamah, saya tentukan saat yang pas bila menginginkan beli suatu hal. Nyatanya saat pagi hari saat toko baru buka atau sore hari mendekati tutup yaitu beberapa saat “aman” untuk mengganggunya. Kenakalanku semakin bertambah. 


Awalnya cuma mengelus-elus paha, lalu meremas buah dada (masihlah dari luar), selalu menyusupkan tangan ke BH (kenyal, tidak demikian besar sesuai sama badannya yang tengah), lantas menekan-nekan penisku yang telah tegang ke sepasang bulatan pantatnya yang padat. Bahkan juga Sari telah “berani” meremas penisku walaupun dari luar. Tak tahu mengapa Sari ingin saja kuganggu. 

Mungkin saja lantaran saya pakai dasi hingga saya disangkanya manager di BUMN ini, walau sebenarnya saya cuma staf umum di perusahaanku. Ketentuan perusahaan memanglah mengharuskan saya gunakan dasi bila kerja di kantor client. Saya semakin penasaran. Saya mesti dapat membawanya, menekuni badannya yang padat mulus, lantas rasakan vaginanya. Awalilah saya membuat gagasan. 

Secara singkat, Sari bersedia kuajak “jalan-jalan” sesudah jam kerjanya, jam 5 sore. Mengenai saat ini jadi permasalahan. Meskipun jam kerja resmiku hingga jam 17, namun saya tidak sering dapat pulang pas saat. Biasanya hingga jam 19 atau 20. Saya cobalah menawar jamnya agak malam saja. Tidak dapat, sangat malam terkena geram mamanya, tuturnya. Okelah, kelak mencari akal mengambil saat. 

Pada hari yang sudah disetujui, Sari bakal menanti di jalan “D” jam 17. 10. Dari kantor ke jalan “D” memanglah makan saat 10 menit jalan kaki. Jam lima seperempat saya telah tiba di jalan D. Kulihat Sari berdiri di pinggir jalan, namun tidak sendirian. Bu Maya (sebut saja demikian) kawan sekerjanya yang sudah berkeluarga ada di sebelahnya.

Celaka. Tadi Sari si cewek genit bilang sendirian. Kalau bawa orang lain bisa terbongkar belangku oleh kawan kantor. Hal ini sangat kuhindari. “Bu Maya cuma mau nebeng sampai halte”, kata Sari seolah mengetahui kekhawatiranku. Syukurlah. Tapi, peristiwa ini harusnya tak seorangpun boleh tahu.

“Tenang aja Mas.., rahasia dijamin, ya Sari”, kata Bu Maya sambil mengedip penuh arti. Setelah menurunkan Bu Maya di halte, aku langsung mengarah ke Setia Budi. Kalau sudah ada cewek genit duduk di sampingku, seperti biasa mobilku langsung cari hotel, wisma, guest-house, atau apapun namanya yang bertebaran di daerah Setia Budi.

Daerah yang sudah beken di antara para peselingkuh, sebab sebagian besar tempat-tempat tadi menyediakan tarif khusus, tarif “istirahat” antar 3-6 jam, 75 % dari room-rate. Sari membiarkan tanganku mengelus-elus pahanya yang makin terbuka ketika duduk di mobil. Penisku mulai bangun membayangkan sebentar lagi aku bakal menggeluti tubuh mulus padat ini.

“Ke mana Mas..”, tanya Sari ketika aku menghidupkan lampu sein ke kanan mau masuk ke Hotel GE.”Kita cari tempat santai..”, jawabku.”Jangan ah. Lurus aja”. “Ke mana..”, aku balik bertanya. “Kata Mas tadi mau jalan-jalan ke Lembang..”. Aku jadi ragu. Selama ini Sari memberi sinyal “bisa dibawa”, tapi sekarang ia menolak masuk hotel.

Tanganku kembali ke pahanya, bahkan terus ke atas meraba CD-nya. “Ih, Mas.., dilihat orang”, sergahnya menepis tanganku. Memang pada waktu yang bersamaan aku menyalip motor dan si pembonceng sempat melihat kelakuan tanganku. Kami sampai di Lembang. Aku bingung. Tadi sewaktu aku mau belok kiri ke Hotel “Kh” lagi-lagi Sari menolak.

Mau ngapain di Lembang? Ke Maribaya? Ah, itu tempat wisata, susah untuk “begituan”. Lebih baik mampir dulu buat minum sambil mengatur taktik. “Kita minum dulu ke sini, ya..?”, ajakku untuk mampir di tempat minum susu segar yang biasa ditongkrongi anak-anak muda. “Mau minum susu? Engga.., ah. Mendingan minum susu Sari aja..”.

Aku tak heran, bicaranya memang suka “nyrempet”. “Boleh..”, kataku sambil memindahkan tanganku dari paha ke belahan kemejanya, menyusup ke balik BH-nya, meremas. Tak ada penolakan. Daging bulat yang ‘mengkal’. Tak begitu besar tapi padat. Puting yang hampir tak terasa, karena kecil. Celanaku terasa sesak.

Sampai di perempatan aku harus ambil keputusan mau ke mana? Lurus ke Maribaya. Kanan kembali ke Setia Budi. Kiri ke arah Tangkuban Perahu. Kulepas tanganku dari “susu segar” Sari, aku belok kiri. Tangan Sari kuraih kuletakkan di selangkanganku, lalu tanganku kembali ke susu segarnya. Tangannya memijit-mijit penisku (dari luar). Berbahaya sebenarnya. Kondisi jalan yang penuh tikungan dan tanjakan sementara konsentrasi tak penuh.


Hari mulai gelap, aku belum menemukan solusi masalahku, di mana aku akan menggumuli Sari? Di tepi kanan jalan ke arah Tangkuban Perahu itu banyak terdapat kedai-kedai jagung bakar. Kubelokkan mobilku ke situ, mencari tempat parkir yang mojok dan gelap. “Mau makan jagung?”, tanyanya. “Iya”, jawabku. Makan “jagung”-mu. Kuperiksa keadaan sekeliling mobil. Gelap dan sepi. Segera kurebahkan jok Sari si cewek genit sampai rata, kuserbu bibirnya.

Sari menyambut dengan permainan lidahnya. Tanganku kembali meremasi bukit kecil kenyal itu sambil secara bertahap mencopoti kancing kemejanya. Sari melepaskan ciuman, bangkit, memeriksa sekeliling. “Jangan khawatir.., aman”, kataku. “Mau minum susu..?”, tawarnya. Tawaran yang naif, sebab jawabannya begitu jelas.

Sari menarik sendiri sepasang ‘cup’-nya ke atas sehingga sepasang bukit putih itu samar-samar tampak. Dengan gemas kulumat habis-habisan buah dadanya. Sekarang tonjolan putingnya lebih jelas, karena mengeras. Tanganku menyusup ke balik CD-nya. Rambut kelaminnya yang tak begitu lebat itu kuusap-usap. Sementara ujung telunjukku memencet clitorisnya.

“aahh”, desahnya. Tangannya kutuntun ke selangkanganku. Ia meremas. “Buka kancingnya Sar..” Sari menurut, dengan agak susah ia membuka kancing, menarik ritsluiting celanaku dan “mengambil” penisku yang telah keras tegang. Beberapa menit kami bergumul dengan cara begini.

Sampai ketika ujung jariku mulai masuk ke “pintu” vaginanya, Sari si cewek genit berontak, bangkit, lagi-lagi men-cek keadaan. Di depan terlihat 2 orang pejalan kaki menuju ke arah kami. Sari cepat-cepat mengancingkan kemejanya, kutangnya belum sempat dibereskan. Sementara aku kembali ke tempatku. Penisku masih kubiarkan terbuka berdiri tegak. Toh tidak akan kelihatan. Kami berlagak “alim” sampai kedua orang itu lewat.

Kembali kami bergumul. Keteganganku yang tadi sempat turun oleh “gangguan” orang lewat, kini naik lagi. Pintu vagina Saripun sudah basah. Saatnya untuk mulai. Kupelorotkan CD Sari. Tapi, masa kutembak di mobil? Rupanya Sari berpikiran sama. “Jangan.., Mas.., banyak orang..” “Makanya.., kita cari tempat, ya..” Sari berberes sementara aku menstart mobil.

Aku menyetir dengan posisi penisku tetap terbuka tegang. “Si joni udah engga tahan ya..”, goda Sari. “Iyyaa.., sini..”, kuraih tangannya menuju ke penisku. Dielus-elus. Tempat terdekat yang sudah kukenal adalah Hotel “Kh”, sedikit di bawah Lembang. Dari jalan raya kubelokkan mobilku masuk ke lorong jalan khusus ke hotel Kh. “Hee.., stop.., stop Mas..”, serunya.

“Lho.., kita ‘kan cari tempat..”, aku menginjak rem berhenti. Sari diam saja. “Di sini aman, deh Sar..”. “Udah malem.., Mas.., Lain kali aja ya?”, Aku mulai jengkel. Si “Joni” mana mau mengerti lain kali. “Ayolah.., Sar, sebentar aja, sekali aja..”. “Maaf Mas, lain kali saya mau deh.., bener. Sekarang udah kemaleman. Saya takut dimarahin Mama”, Aku diam saja, jengkel.

“Bener.., Mas. lain kali saya mau..”, katanya lagi meyakinkanku. Aku mengalah, toh masih banyak kesempatan. Aku kembali menuju Bandung. Kira-kira 100 m sebelum hotel GE, kembali aku membujuk Sari si cewek genit untuk mampir. Lagi-lagi Sari menolak sambil sedikit ngambek. Aku terus tak jadi mampir. Sampai di jalan lurus menjelang terminal Ledeng, macet sekitar seratusan meter.

Tempat ini memang biasa macet. Selain keluar/masuknya angkot, juga ada pertigaan jalan Sersan Bajuri. Iseng mengantre, kuambil tangan Sari ke penisku yang masih belum “kusimpan”, Sari menggosoknya. Lepas dari kemacetan tiba-tiba Sari memberi tawaran yang nikmat. “Mau dicium..?”. “Dengan senang hati”.

Segera saja Sari membungkuk melahap penisku yang sudah tegang lagi. Kepalanya naik turun di pangkuanku. Nikmatnya.., Baru kali ini aku menyetir sambil dikulum. Aku memperlambat jalan mobilku, menikmati kulumannya sambil mata tetap mengawasi kendaraan lain. Sementara rasa nikmat menyelimuti bawah badanku, deg-degan juga dengan kondisi yang “aneh” ini.

Sampai di pertigaan jalan Panorama macet lagi. Situasi ramai. Kuminta Sari melepas kulumannya, banyak orang lalu-lalang. Lepas dari kemacetan kembali Sari memainkan lidahnya di leher penisku. Ada untungnya juga jalanan macet. Aku punya waktu untuk menurunkan tensi sehingga bisa bertahan lama. Oohh.., sedapnya lidah itu mengkilik-kilik leher dan kepala kelaminku.

Nikmatnya bibir itu turun naik menelusuri seluruh batang penisku. Sayangnya, aku harus membagi konsentrasiku ke jalan. Menjelang pertigaan Cihampelas Sari melepas jilatannya, bangkit melihat sekeliling. “Sampai di mana nih?”, tanyanya terengah. “Hampir Cihampelas”, jawabku. “Mampir ke Sultan Plaza.., ya Mas..”. “Mau ngapain?”. “Mama tadi pesan”.

Okey, mendadak aku ada ide untuk melepaskan ketegangan selepas-lepasnya tanpa terpecah konsentrasi. Aku masuk ke Plaza, cari tempat parkir yang aman, di belakang bangunan. Sengaja kupilih tempat yang gelap. Kucegah Sari membuka pintu hendak turun. “Oh ya.., sini Sari rapiin”. Kutarik kepala Sari begitu ia membungkuk akan merapikan celanaku.

“Terusin.., Sar..”, perintahku. Sari bangkit lagi. Kukira ia mau menolak, tahunya hanya melihat sekeliling. Aman. Kembali kepala Sari turun-naik mengulum penisku. Kini aku bisa konsentrasi ke rasa nikmat di ujung penis. Sari memang pintar berimprovisasi. Kelihatannya ia sudah biasa ber-oral-seks.


Lidahnya tak melewatkan seincipun batang kemaluanku. Kadang ditelusuri dari ujung ke pangkal, kadang berhenti agak lama di “leher”. Kadang bibirnya berperan sebagai “bibir” bawahnya, menjepit sambil naik-turun. Terkadang nakal dengan sedikit menggigit.

Aku bebas saja mendesah, melenguh, atau bahkan menjerit kecil, tempat parkir yang luas itu memang sepi. Ketika mulutnya mulai melakukan gerakan “hubungan kelamin”, perlahan aku mulai “naik”, rasa geli-geli di ujung sana semakin memuncak. Saatnya segera tiba. “Dicepetin.., Sar..”. Sari bukannya mempercepat, malah melepas. “Uh, pegel mulut saya..”.

“Sebentar lagi.., Sar..”. Kembali ia melahap. Kali ini gerakan kepalanya memang cepat. Aku menuju puncak. Sari makin cepat. Sebentar lagi.., hampir..! Sari mempercepat lagi, sampai bunyi. Hampir.., hampir.., dan “Creett”, Kusemprotkan maniku ke dalam mulut Sari. Aku melayang. “Uuhh” Sari melepaskan kulumannya, “Crot..”, kedua dan seterusnya ke celana dan perutku.

“Iihh.., engga bilang mau keluar.., jijik..”, katanya sambil mencari-cari tissu.Aku rebah terkulai. Sementara Sari membersihkan mulutnya dengan tissu. Beberapa saat kemudian. “Yuk.., Mas.., turun”. “Entar dong..”, Aku bersih-bersih diri. Celaka, noda yang di celana tak bisa hilang. “Kamu sendiri deh”. “Sama Mas dong..”.

“Ini.., engga bisa ilang”, kataku sambil menunjuk noda itu. “Bajunya engga usah dimasukin”, sarannya. Betul juga. Akhirnya aku membayar belanjaan Sari. Aku diminta ikut belanja karena maksudnya memang itu. Aku juga memberinya uang dengan harapan agar lain kali bisa kusetubuhi. Esoknya ketika aku membeli rokok, Sari kelihatan biasa saja tak berubah.

Masih sebagai cewek genit dan sedikit manja. Peristiwa semalam tak mengubah prilakunya. Aku yang makin penasaran ingin menidurinya. Pernah suatu pagi sekali tokonya belum buka tapi Sari si cewek genit sudah datang sendirian sedang merapikan barang-barang, kukeluarkan penisku yang sudah tegang karena sebelumnya meremas dadanya. Kuminta Sari mengulumnya di situ.

“Gila..! entar ada orang”. “Belum ada.., ayo sebentar aja”. Diapun mengulum sambil was-was. Matakupun jelalatan memperhatikan sekeliling. Kuluman sebentar, tapi membuatku exciting. Setiap ada kesempatan untuk pulang jam 5, aku selalu mengajak Sari. Beberapa kali ia menolak.

Macam-macam alasannya. Sedang mens, mau ngantar adik, ditunggu mamanya. Sayang sekali, sampai Sari pindah kerja aku tak berhasil menidurinya. Tapi kemarin, setelah hampir 2 tahun, aku ketemu Sari di BIP berdua dengan teman cewek. Dia rupanya sudah tidak bekerja di toko koperasi itu lagi, sekarang kerja di Bagian Administrasi di sebuah Guest House.

Jelas aku mencatat nomor teleponnya. Letak tempat kerjanya tak jauh dari kantor itu. Hanya, kemungkinan ketemu kecil, sebab proyekku di kantor itu telah selesai.






Next
Previous
Click here for Comments

0 komentar: